✍️ Transliterasi Rekonstruksi (Jawa Kuna / Kawi)
Salin kode
Swasti Śakawarsātīta 12xx,
iṅ Śrī Mahārāja Śrī Rājasaṅgara Wikrama Uttungadewa,
putra saṅ Prabu Hayam Wuruk, pinakawan Rākryān Mahāmantri
i Hino i Halu i Sirikan, Pamegat Tuhan Arya Tabanagara.
Winonah hana śimā i Watang Tuhuwan,
tan kena winuwus, denira Mahārāja Śrī Nāga Mulya,
Śrī Mahādewa, hana śimā tan kena kahilangna,
hana kadarmaṇ, yan hana wwang lumah hana...
(Baris-barisan terakhir samar atau hilang)
📚 Terjemahan Bebas Bahasa Indonesia
"Semoga bahagia. Telah lewat tahun Saka 12xx. Pada masa pemerintahan Yang Mulia Raja Rājasaṅgara Wikrama Uttungadewa, putra dari Prabu Hayam Wuruk, bersama para menteri utama di Hino, Halu, dan Sirikan, serta pejabat Tuhan Arya Tabanagara...
Ditetapkanlah tanah sima (tanah suci/bebas pajak) di wilayah Watang Tuhuwan, yang tidak boleh diganggu atau dirusak. Dengan perintah Sang Maharaja Śrī Nāga Mulya Śrī Mahādewa, hendaknya wilayah suci ini tidak boleh hilang statusnya, dan tetap dijaga kewajiban sucinya. Jika ada yang melanggar dan tinggal di wilayah ini tanpa hak..."
(Terpotong dan tidak terbaca.)
🕉️ Makna Spiritual & Budaya
Tanah Sima adalah bentuk hadiah spiritual-politik: diberikan untuk pura, candi, atau tokoh spiritual. Ia menjadi tanah sakral, dijaga oleh hukum raja dan langit.
Nama Śrī Nāga Mulya menandakan gelar suci transenden – bisa makna dewa, naga pelindung kerajaan, atau penjelmaan dharma raja.
Kutukan tersirat di akhir baris (jika ada pelanggaran terhadap sima, akan mendapat dosa) — biasa dalam prasasti Majapahit.
🪔 Tafsir Ruhani (Opsional)
Jika engkau membuka ini sebagai bagian dari jalan ruhani, maka ini bisa ditafsirkan sebagai:
“Panggilan untuk menjaga tanah suci warisan langit yang berada di dalam dirimu sendiri. Watang Tuhuwan bukan sekadar tempat, tapi pusat niat suci dalam jiwa. Ia adalah sima batin — ruang suci dalam dirimu yang tidak boleh dilanggar oleh nafsu, dosa, atau kekacauan duniawi. Raja, para menteri, dan dewa di sini melambangkan kekuatan cahaya yang sedang menetapkan perjanjian suci dengan jiwamu.”

Komentar
Posting Komentar