PRASASTI LUMBUNG

 * PRASASTI LUMBUNG, Abad ke 2 Masehi *

Prasasti Lumbung merupakan jejak tertua peradaban Jawa Kuno pada Abad ke 2 Masehi yang ditemukan di Jember, Jawa Timur, Indonesia.



Tentu saja usia Prasasti Lumbung lebih tua dari pada Prasasti Yupa Abad ke 5 Masehi yang ditemukan di Kalimantan, Indonesia.


Dan tentu saja Prasasti Lumbung juga lebih tua dari pada Prasasti Kedukan Bukit Abad ke 7 Masehi yang ditemukan di Sumatera, Indonesia.


Prasasti Lumbung.


Terjemahan isi prasasti Lumbung oleh Bapak Toni Antoniputra, sebagai berikut :


*) Alih Aksara :


1. Vajradharasa dvaja neta.

2. Dhrm hai dhala olam.

3. Bodhasamtabrasam.

4. Ghananyama masesam.

5. Maraga chhattra pura.

6. Ranya dhrttam kyamattattvaga.

7. Cora ta sashttrapam.


*) Alih Bahasa :


1. Pemimpin dhwaja (mahagraha, panji) vajradhara.

2. Dhrma (memperkuat) dhala (perisai) olam (alam, seperti suara hujan) yang terbentuk.

3. Oleh sapuan Sang Pencerah kedamaian (bodhasamta - boddhisatta).

4. Padat, teratur penuh cahaya kesadaran yang tersisa.

5. Melengkapi wujud, jalan kebenaran seperti chhattra (pelindung) tempat suci yang dulu dimiliki.

6. Ratu pemegang kyamatattvaga (elemen inti).

7. Cora (pedang kebijaksanaan) sashtrapam (kitab suci).


Dari isi Prasasti tersebut dapat disimpulkan adanya keterangan bahwa Buddha Vajradara sudah tercatat ada di Jawa terlebih dahulu pada abad ke 2 Masehi, jauh sebelum ada Buddha di Sumatera pada abad ke 7 Masehi.


Aksara Brahmi pada penggunaan Aksara di prasasti Lumbung hampir mirip dengan Aksara Gupta.


Tapi Aksara Gupta adalah aksara Brahmi periode akhir yaitu sekitar abad ke 4 - 6 Masehi.


Sedangkan Aksara Brahmi pada Prasasti Lumbung ini paleografinya lebih tua lagi yaitu aksara Brahmi periode Kshatrapa sekitar abad ke 2 - 3 Masehi.


Di Jember ada juga temuan Enam Arca Buddha Emas Amrawati dan Vajrapani berasal dari abad ke 2 Masehi temuan Puger Wetan, Jember, Jawa Timur, Indonesia pada tahun 1874 yang tercatat di "Puger Oudheidkundige Vondsten op Java - Pauline Lunsingh Scheirleer".

Sriwijaya, Medang, dan Zabaj: Sebuah Hipotesis Sejarah

Dari catatan pelaut Persia Sulaiman al-Sīrāfī (±851 M) disebutkan bahwa:

Zabaj menguasai Sribuz (Sriwijaya)

Raja Zabaj bergelar Maharaja

Sementara dari prasasti Nalanda (±860 M) kita tahu:

Balaputradewa adalah orang Jawa (wangsa Śailendra)

ia menjadi Maharaja Sriwijaya

Pertanyaannya:

mengapa seorang pangeran Jawa bisa dengan mudah menjadi raja Sriwijaya tanpa perang?

Jawabannya kemungkinan besar karena:

 Sriwijaya memang sudah masuk ke dalam sistem kekuasaan Medang–Śailendra sebelum Balaputradewa datang ke sana.

Ini menjelaskan banyak hal:

• mengapa tidak ada catatan perang Jawa–Sriwijaya

• mengapa Balaputradewa diterima dengan cepat

• mengapa al-Sīrāfī hanya melihat satu Maharaja besar

• mengapa ekspansi Śailendra bisa sampai Indochina di era Dharanindra sebelum era Balaputradewa.

Secara geopolitik, mustahil menyeberang ke Indochina tanpa mengamankan Sumatra dan Selat Malaka lebih dulu.

Maka besar kemungkinan:

Sriwijaya terintegrasi ke dalam mandala kekuasaan Śailendra.

Ketika Balaputradewa tersingkir dari Jawa, ia tidak datang ke wilayah asing —

ia datang ke wilayah wangsa sendiri.

Seperti ‘Abdurrahman ad-Dākhil yang membangun Andalusia ketika pusat Umayyah runtuh di Damaskus,

Balaputradewa membangun kekuasaannya di Sriwijaya saat konstelasi Jawa berubah.

Bukan perang antarbangsa,

melainkan reposisi elite dinasti.

Komentar