SBY DAN PERSOALAN ETIKA POLITIK YANG TAK PERNAH SELESAI I Sesungguhnya, saya sudah bosan menulis tentang SBY. Sejak awal dan semula, posisi saya sudah sangat jelas bahwa saya tidak pernah suka dengan figur satu ini. Bagi saya, dialah yang selalu jadi duri dalam daging. Onak dalam perjalanan bangsa ini untuk dapat melangkah maju.
Pertanyaannya kenapa? Di luar dari 10 tahun pemerintahannya, yang tak meninggalkan prestasi berarti. Juga ia adalah presiden di era modern, yang di akhir masa jabatannya membiarkan kas negara dalam keadaan kosong. ia adalah pemecah belah bangsa, atas nama kekuasaan ia terlalu toleran memberi subsidi hingga tanpa sadar kita membuat masyarakat jadi manja dan selalu butuh bantuan. Ia adalah pemimpin yang sangat toleran justru pada kelompok intoleran, sekedar untuk mendudukannya sebagai dalan sesat dan sesaat.
Sebenarnya, tak sulit untuk sejak awal menduga bahwa ia adalah dalang di balik banyak peristiwa "ramutu" dalam jagad politik modern Indonesia. Kasus ijazah palsu Jokowi adalah salah satunya. Kasus yang terlalu mengada2, yang sesungguhnya kasus yang tidak perlu, karena yang dipersoalkan sebenarnya hanya "keaslian ijazah dari ijzah awal". Dimana ijazah tersebut bisa saja hilang dan diganti. Bukan sesuatu yang esensial betul, karena menyangkut secarik kertas berharga saja.
Jadi begini, kasus sebenarnya: Setelah lulus dari Fakultas Kehutanan UGM, Jokowi melamar pekerjaan di Aceh tentu sebagai pegawai biasa. Sebagaimana umumnya, di masa itu (yang masih berlanjut sampai hari ini). Bisa menunjukkan ijazah asli adalah cara menyandera seorang pekerja untuk tetap taat dan loyal dalam kontrak kerjanya. Di masa itu, tentu saja Jokowi adalah "nothing", masih bukan siapa2 dan harus tunduk pada peraturan tersebut.
Merasa tidak butuh ijazah, Jokowi kemudian berkembang menjadi pengusaha furnitur yang handal. Hingga suatu ketika, ia didorong2 untuk menjadi Walikota Solo. Memiliki gurita bisnis, hingga merasa butuh "mainan" politik. Di titik inilah, ia kemudian merasa butuh ijazah lagi. Lalu dicarilah ijazah pengganti. Bisa dipahami dan masuk akal jika KPU Solo dan PDI-P sesungguhnya tahu tentang kasus ini. Kasus yang akhirnya jadi tunggangan banyak pihak untuk unjuk gigi atau sekaligus mengambil keuntungan daripadanya.
Jadi bila didebat, apakah ijazah Jokowi itu asli. Semua sepakat, bahkan UGM sebagai institusi yang menerbitkannya sudah secara resmi dan legal menguatkannya. Nah, yang tersisa adalah "pemancing di air keruh", yang sialnya dimotori mereka yang "saudara serahim" Jokowi di UGM. Yang dimotori "trio manusia tak punya malu" itu: Tifa, Roy Suryo, dan Rismon. Di dunia maya ketiganya disingkat Tiroris, sebagai plesetan dari teroris.
Apapun sebutan buat mereka, terlalu mudah ditebak ketiganya adalah orang bayaran, suruhan dan sekedar wayang. Mereka adalah pemaimn sandiwara yang menjual harga dirinya terlalu murah. Ketiganya memiliki panggung yang sama: pembenci Jokowi, atau minimal berbalik membencinya. Sesuatu yang akan menjadi fenomena tetap, sampai barangkali 10 tahun mendatang. Apalagi terbukti, mestakung, Jokowi berhasil membangun dinastinya sendiri dengan baik.
Dalam hal ini, Jokowi adalah penunggang badai yang cakap!
Persoalan yang lebih serius, walau tampak tidak pernah terbukti korupsi yang disadari oleh musuh politiknya. Dalam 10 tahun masa pemerintahan Jokowi, ia memiliki "teman yang berhutang budi" padanya sangat banyak. Berbeda dengan presiden2 sebelumnya yang "jer basuki mawa bea". Harus memobilisasi dana sedemikian rupa untuk jadi presiden. Jokowi nyaris cuma jualan citra dirinya, duit bergerak sendiri dan membiayainya.
Sampai di sini? Tidak! Ia memiliki hubungan sangat baik dengan China, yang menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia dan tak benar2 punya negara musuh yang bersifat konfrontatif
Di titik ini, obligasi yang dimilikinya nyaris tak tertandingi. Gerak dan bahasa tubuhnya tetap sama sejak awal ia dikenal di panggung politik dunia. Sederhana tapi menggetarkan. Dan karena itu ia selalu diam, tidak menunjukkan perlawanan dalam kasus apa pun. Untuk apa? Karena ia memiliki obligasi dan kolateral yang nyaris tak tertandingi: uang yang liquid yang bisa dicairkan pada waktu yang tepat, sekutu loyal yang setiap saat siap digerakkan, dan terutama simpati rakyat yang masih tinggi terhadapnya.
Di pusaran serangan politik yang tertuju padanya, menjelaskan mengapa ia sementara waktu diam menghadapi berbagai fitnah yang tertuju padanya. Nggo ngapa, buat apa? Ia akan selalu secara tepat berstrategi memilih lawan, sampai titik lawan itu terlihat ketololannya. Dalam trio-tiroris itu, saking malunya Kraton Yogyakarta terhadap salah satru warganya yang "nynyengit" itu. Mencabut gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) yang pernah disandangkan padanya, sesuatu yang sangat langka. Justtu karena ketidak relevanannya gelar itu di hari ini.
Dalam kultur Jawa, ia sedang "ngunda layangan", menaikkan layangan membiarkan musuh menari2. Sedang dalam kultur bRata, ia sedang membubungkan balon melayang ke angkasa, menunggu siapa saja yang akn menembaknya. Sampai titik para pembencinya itu, justru geragapan menghadapi media yang dibangunnya sendiri. Mengapa pada akhirnya, Jokowi hanya mempersoalkan Si Trio Tiroris ini? Ia sedang mengkerakap para tikus yang jadi lawannya, tanpa harus membakar lumbung lawan.
Ya karena ia tahu, siapa di belakang mereka. Yang bahkan seorang introvert seperti saya yang kerjaannya membaca file2 membingungkan saja mudah untuk tahu, ngerti dan paham!
Kembali ke SBY? Mengapa ia selalu berperilaku seperti itu? Ia adalah presiden dengan beban nama terlalu panjang. Itu beban awalnya. Namanya sendiri sudah menjelaskan dirinya, mengapa kemudian selalu disingkat dengan membuatnya menjadi akronim. Dalam tradisi Jawa yang benar, sesungguhnya tidak boleh menggunakan tiga nama atau arti nama. Tanpa memahami artinya, akan membuatnya berbalik menjadi "kabotan jeneng". Yang untuk mentraisirnya perlu dilakukan upacara ruwatan.
SBY, bisa didedah menjadi tiga atau malah empat kata: Susilo, Bambang, Yudhoyono (Yudho dan Yono).
OK, mari kita bahas singkat saja. Susilo=adab, etika, moral; Bambang=julukan untuk ksatria, tapi hanya julukan, bukan ksatria itu sendiri; Yudho=pertempuran, Yono=perjalanan, dua kosa kata yang sesungguhnya saling membekap, tapi bila diterjemahkan sebagai gabungan maka ia selalu berada dalam perjalanan pertempuran. Bila diurut atau digabung menjadi membingungkan, semembingunkan perjalanan cara berpolitik dirinya.
Ia akan tampak selalu bermoral, dalam tutur kata, dimana ia sangat EYD banget. Menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan, sesuatu yang tampak benar, tapi sangat membosankan. Lalu Bambang, seorang ksatria? Sebelum SBY masuk Akmil dan jadi tentara, lalu jadi jendral. Ia punya masa lalu yang gelap, pernah menikah yang tak pernah diakuinya. Bahkan cenderung dibungkam saat ia berhasil jadi calon mantu seorang jendral. Dalam karier militernya sendiri, ia tak petnah benar2 terjun dalam pertempuran.
Kalau pun ada yang perlu disebut, ia adalah seorang pelopor gaya politik pencitraan, yang memiliki gaya playing victim sebagai metode kerjanya.
Menjelaskan, sebetapa pun sama2 militer, watak dirinya dengan Prabowo sangat berbeda. Ia hanya jendral di atas kertas, yang men-jendral-kan dirinya sendiri secara penuh (baca: bintang empat). Ketika ia jadi presiden, dalam hal ini perilakunya ini ditiru oleh Prabowo. Sebuah catatan ironik, jika kita membandingkan dengan Presiden Faso yaitu Ibrahim Traoré yang hanya seorang Kapten. Tapi sangat sukses memajukan negaranya tanpa predikat ini itu. Menjelaskan kenapa militer baik TNI maupun Polri semakin jauh dari rakyat.
Bila pengusaha adalah pengejar rente, maka orang barak adalah pengejar kuasa.
Dan terakhir, tentang yudo dan yono. Seorang yang terobsesi selalu dalam pertempuran. Ia yang dalam kultur Jogja adalah "tukang ngisruh", setelah ngisruh justru ia akan hadir sebagai petugas pemadam kebakaran. Ia akan selalu berperan seperti itu, pun dalam kasus Jokowi itu. Ia adalah aktor intelektual yang menyulut, barangkali mendanai dan mengorkrestasi. Tapi ketika kasus ini melebar dan mengkaitkan dengan dirinya, ia akan cuci tangan dengan cara memperkusi titik yang paling lemah.
Semua politikus dengan mudah paham tentang watak buruk dirinya ini. Lalu apa yang dicarinya?
Ia punya anak, yang sesungguhnya tak lebih dan tak beda dengan Tommy Soeharto di masa lalu. Ganteng, kekinian, dan bagi sebagian publik pencinta layar kaca eye cathcing. Disukai wanita tapi dijauhi pria, kecuali yang mebutuhkannya dirinya dalam banyak hal. Tapi tak bisa dipungkiri beban dasarnya: tetaplah ia adalah "anak papi", tanpa bapaknya ia hanyalah remah rengginan dalam kaleng Khong Guan. Partainya adalah stuck-party yang menunggu tenggelam, tanpa membuat isu ia akan dilupakan.
Dalam kelindan inilah, SBY, partai dan anaknya bergerak. Mungkin ia tak akan pernah jadi apa2 lagi, tapi selalu saja ia masih "rumangsa isa". Tak diperlukan, tapi berusaha dianggap diperlukan.
Bagi saya ketika tiba2 SBY masuk ke dalam dunia seni rupa dan lalu mulai naik panggung lagi untuk menyanyi. Banyak seniman di kota Jogja tiba2 bersimpati dan merasa terbelai profesinya. Hingga muncul tulisan absurd: haruskah pelukis berasal dari sekolah seni lukis? Saya geli, tapi yang "ndak papa, rapopo". Tapi pesan dasarnya, ia mungkin mulai lelah dengan pertempuran yang ia citakan sendiri dan selalu gagal. Ia ingin dunia lain yang lebih menentramkan.
Tapi di situlah persoalan dunia politik di Indonesia, ia seolah tak pernah benar2 bisa berlari pergi. Dalam kasus SBY, ia terkutuk oleh figur Soetan Batoegana di masa lalu. Seorang figur antagonis, yang selalu merasa bisa menyederhanakan masalah, tanpa memahami secara mendasar. Bungkus itu barang! Orang yang membela habis dirinya, tapi ia lupakan dan terlantarkan di masa sakit hingga matinya. Satu hantu kecil, yang sesungguhnya tak terperi banyaknya hantu2 yang lain yang menyertai hidup SBY.
Hingga ia selalu saja muncul untuk bersuara, sumbang, membingungkan dan jelas membuat bosan. Tak pernah yakin dengan apa yang diucapkannya, masih saja memilih lawan terlemah. Alih2 yang kuat dan bertenaga, ia selalu bermain pingpong untuk mencuci dirinya sendiri. Karena sesungguhnya ia buka ksatria yang berani berdiri tegar melakukan perlawanan.
Ia yang akan terus bermasalah dengan etika dalam berpolitik. Di masa lalu, masa kini, besok. Selamanya....
.
.
.
NB: Tulisan ini terinspirasi dari disomasinya sahabat saya Budhius Ma'ruff. Ia adalah sedikit dari rekan seangkatan di FISIP UI, yang tetap berani bersuara di ruang media. Berbeda dengan saya, ia seorang profesional di bidangnya. Walau kemudian ia malah menjadi trader, tetaplah ia seorang yang menjaga elan vital dirinya sebagai aktivis.
Suatu ketika, ia mengajak saya untuk "kembali bergerak". Tentu saya tolak halus, saya merasa menulis di sosial media hanya untuk bersenang2 saja, untuk menyapa teman2 saya. Selebihnya saya akan kembali ke dalam bathok tempurung saya untuk mensyukuri indahnya sepi. Ia kemudian menjadi podcaster, youtuber yang cukup berani menunjukkan suaranya.
Mendengar ia, seorang diri disomasi SBY, saya berkirim pesan padanya. Tak usah takut, bung. Saya dukung, sampai mana ia berani menghukummu. Karena saya tahu, SBY tak lebih seorang yang aktif melakukan somasi, tapi tak pernah lebih dari itu. Kalau ia berani lebih dari itu, kita akan tahu bagaimana membalasnya dengan cara yang lebih mudah. Itu somasi, tak memiliki dasar hukum untuk menjerat, kecuali sekedar membuat jeri sesaat. Ia sekedar asap api peringatan sebagaimana dulu orang Indian membakar kayu untuk mengirim pesan.
Berkali saya pribadi, ingin menyelesaikan buku saya "SBY dan Orde Los Stang". Tapi untuk apa? Popularitas tak pernah jadi minat hidup saya. Di masa pemerintahannya dulu, ia membiarkan rakyatnya "kerah dewe" untuk saling membangun benteng permusuhan. Hanya sekedar ia bisa bertahan 10 tahun utuh berkuasa. Menjadikannya presiden peertama yang tak dijatuhkan di tengah jalan. Sial benar rekornya itu disamai Jokowi, dan lebih dari itu ia berhasil menaikkan anaknya jadi Wapres.
Rasa irinya itu, cemas tak berkesudahan yang membuatnya (barangkali) diarahkan para psikolog-nya untuk menekuni hobinya saja. Tapi dosa2nya terlalu banyak. Ia yang selalu bermasalah dalam banyak kasus, terseret beban mengangkat citra anaknya. Ia bahkan bermasalah dengan tubuhnya, sebagaimana foto ilustrasi di bawah ini. Ia yang tak jenak, lalu mudah kehilangan kendali.
Bukan oleh persoalan besar, tapi akibat gatal di pringsilannya sendiri. Padahal pringsilan bagi laki2 adalah bagian terpenting yang harus selalu dijaga kesuciannya.
Gambar di bawah Ini jadi persoalan serius. Bahkan dalam kebersihannya saja, ia jadi pertanyaan. Huh, dasar pringsilan!

Komentar
Posting Komentar