Strategi Angkatan Udara China (PLAAF) dalam merespons perubahan keseimbangan kekuatan udara di kawasan Indo-Pasifik, khususnya setelah Indonesia memborong 42 unit jet tempur Dassault Rafale. Meskipun jet tempur mesin tunggal J-10C sering dipromosikan sebagai alutsista canggih, Beijing dilaporkan tidak menjadikannya sebagai tumpuan utama untuk menandingi Rafale. Sebaliknya, China menyiapkan varian "Flanker" tercanggih dan paling mematikan mereka, yakni Shenyang J-16.
J-16 dinilai sebagai lawan yang lebih sepadan karena merupakan pesawat tempur kelas berat (heavy fighter) bermesin ganda, berbeda dengan J-10 yang lebih ringan. Keunggulan utama J-16 terletak pada radar AESA (Active Electronically Scanned Array) berukuran besar dan kapasitas muat rudal yang masif, termasuk rudal jarak jauh PL-15. Kombinasi ini memungkinkan J-16 melakukan pertempuran di luar jangkauan visual (Beyond Visual Range) yang diklaim mampu mengungguli jangkauan radar RBE2 milik Rafale.
Langkah ini menegaskan bahwa China memandang serius modernisasi militer Indonesia. Dengan kemampuan manuver tinggi dan avionik modern yang merupakan pengembangan dari basis Su-27/Su-30, J-16 diposisikan sebagai "ujung tombak" untuk menjaga dominasi udara China menghadapi jet-jet tempur generasi 4.5 buatan Barat yang kini mulai memadati kawasan Asia Tenggara.

Komentar
Posting Komentar