Dokumen Tiongkok tertua yang mencatat Jawa dibuat oleh Dinasti Han (206 SM-220 M) dalam Hou Han Shu (Kitab Sejarah Dinasti Han Akhir) dan Xinanji Zhuan (Catatan Negara Barbar Barat Daya). Dikatakan bahwa Jawa datang ke Tiongkok pada masa Kaisar Yongjian berkuasa, yaitu pada 131 Masehi.
“Pada masa pemerintahan tahun ke-6 (131 M) Kaisar Yongjian, disebutkan bahwa Raja Jediao (Jawa) bernama Bian mengirim utusan untuk memberi sesembahan ke Tiongkok. Sebagai balasan, Kaisar menghadiahkannya stempel emas kekaisaran dengan pita berwarna ungu.
Deskripsi awal tentang Jawa juga ditemukan dalam narasi Kitab Sejarah Dinasti Song masa dinasti-dinasti Selatan (420-479) atau Song Shu bab ke-97. “Pada masa pemerintahan tahun ke-12 (tahun 435) dari kaisar Yuanjia, Raja Sri Paduka Alapamo dari negara Shepopoda (Jawa) mengirim utusan (ke Tiongkok) untuk menyampaikan surat penghormatan…”.
Rekaman kunjungan awal Tiongkok ke Tanah Jawa diketahui berdasarkan catatan Fa Xian (Fa Hien) dalam Fo Guo Ji (Catatan Negara-negara Buddhis). Disebutkan pada 414 ia terdampar di Yepoti (Jawa). Di negara ini ajaran Hindu berkembang luas, sedangkan ajaran Buddha belum ada yang membincangkan. Demikian kutipan dari Fa Xian.
Dokumen berikutnya berasal dari masa dinasti Tang (618-907). Disebutkan di dalamnya wilayah kekuasaan Heling (Holing atau Kalingga), tempat bertakhtanya seorang ratu bernama Ratu Xi Mo, pemimpin Jawa kala itu. Tercatat juga Jawa adalah negeri yang sangat kaya. Hasilnya berupa tempurung penyu, emas kuning dan putih (emas dan perak), cula badak, dan gading. Selain itu ada gua-gua yang dapat mengeluarkan garam dengan sendirinya.
Berita berikutnya berasal dari dinasti Song (960-1279). Kitab ini memuat informasi rinci mengenai perjalanan pelaut Tiongkok menuju Nusantara, khususnya Jawa. Informasi mengenai waktu dan jalur tempuh disertakan di dalamnya. Menurut Nurni, jalur keberangkatan adalah Guangzhou à Condore (pulau kecil di mulut Sungai Mekong, Vietnam) à Tumasik/Singapura à Sriwijaya à Jawa. Sementara jalur pulang adalah Jawa à Sriwijaya à Kuala Trengganu à Annam à Guangzhou.
Sumber yang paling muda berasal dari masa dinasti Yuan (1206-1368). Informasi yang paling banyak dikutip adalah perseteruan antara Kubilai Khan dengan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari. Dikatakan Kertanegara berani menggores wajah utusan Kerajaan Yuan bernama Meng Qi.
Sumber yang tampaknya sahih sesuai dengan catatan sejarah dan arkeologis. Catatan-catatan tersebut berasal dari sumber-sumber Tiongkok kuno yang telah diverifikasi oleh sejarawan dan arkeolog.
1. Hou Han Shu (Kitab Sejarah Dinasti Han Akhir) dan Xinanji Zhuan (Catatan Negara Barbar Barat Daya) dari Dinasti Han (206 SM-220 M) memang mencatat tentang kunjungan utusan Jawa ke Tiongkok pada tahun 131 M.
2. Song Shu (Kitab Sejarah Dinasti Song) dari dinasti-dinasti Selatan (420-479 M) juga mencatat tentang kunjungan utusan Jawa ke Tiongkok pada tahun 435 M.
3. Fo Guo Ji (Catatan Negara-negara Buddhis) karya Fa Xian (Fa Hien) dari abad ke-5 M memang mencatat tentang kunjungannya ke Jawa dan menyebutkan bahwa ajaran Hindu berkembang luas di Jawa pada saat itu.
4. Catatan-catatan dari dinasti Tang (618-907 M) dan Song (960-1279 M) juga mencatat tentang Jawa dan hubungan antara Jawa dan Tiongkok pada saat itu.
5. Catatan tentang perseteruan antara Kubilai Khan dan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari juga sesuai dengan catatan sejarah lainnya.
Namun, perlu diingat bahwa sumber-sumber Tiongkok kuno mungkin memiliki bias dan keterbatasan dalam mencatat informasi tentang Jawa dan Nusantara.
Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis kritis dan verifikasi dengan sumber-sumber lain untuk memastikan kesahihan informasi tersebut.
Dalam konteks sejarah Jawa, sumber-sumber Tiongkok kuno ini sangat penting karena memberikan informasi tentang hubungan antara Jawa dan Tiongkok pada masa lalu, serta tentang perkembangan agama dan budaya di Jawa pada saat itu.
===================================
Komentar
Posting Komentar