Yang Tak Bisa Berdusta
Tubuh kita ini tak bisa berdusta! Kita tidak bisa bilang bahwa kita tidak suka makan junkfood dan jarang sekali makan makanan yang manis-manis. Bolehlah bilang begitu di mulut. Lain lagi yang dikatakan oleh tubuh kita. ...
Tubuh kita ini hanya bisa menampilkan jejak konsumsi rutin Ultra Processed Food, kelebihan karbo sehari-hari, dan tumpukan gula darah sebagai konsekuensinya: menampilkan segenap gejala resistensi insulin pemicu Sindroma Metabolik.
Jadi kalau aku dokter dan mendengar pasienku sesumbar membela dirinya, "Saya ini nggak suka jajan, lho, Dok. Makan tidur pun teratur!" Aku tak perlu meneliti dan check and recheck kebiasaannya sehari-hari, cukup menatap buktinya di depanku.
You are what you eat. Itu kini adalah nubuat zaman baru. Tubuh kita tidak mau diajak kompromi soal penyangkalan. Bila kita tidak peduli gizi, tak mau tahu dan tak sudi mencari tahu soal nutrisi, menyepelekan kebutuhan tidur malam hari, makan sembarangan dan sesuka hati, maka tubuh kita hanya bisa tampil sesuai kebiasaan itu: bobotnya bertambah terus, lingkar perut melebar, wajah sembap, lekas letih, kurang bersemangat, mager, kulit wajah kusam, kering atau berjerawat, mengalami pigmentasi, insomnia, dan pencernaan tidak lancar.
Kok aku tahu? Aku pernah begitu! Empat tahun lalu masih seperti itu. ...
Lain di mulut, lain di hati? Itu masih bisa! Sebab orang tak bisa membaca hati dan pikiran kita. Yang bolak-balik kau sampaikan kepada khalayak Dumay tak bersesuaian dengan tindak-tandukmu sehari-hari? Oh, itu masih mungkin. Orang Maya tak mungkin check and recheck kehidupanmu sehari-hari. ...
Namun, seperti tubuh tak bisa berdusta, begitu pula dinding Maya ini tidak bisa berdusta. Ujung-ujungnya kita harus berhadapan dengan kenyataan dan kebenaran tak terpungkiri tentang siapa diri kita yang sebenarnya dan bukan sebagai diri kita yang ingin kita tampilkan lewat ucapan, ekspresi pikiran, dan unggahan kita di Dunia Maya.
Barangkali kita ingin mengesankan sebagai orang terdidik, cerdas cendekia yang baik hati, peduli sesama, dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan. Cie-cie, ... Tetapi, fokus kita selalu keburukan dan perburukan manusia lain. Tak peduli dan tak ingin mencari tahu informasi yang lebih dalam, gambaran lebih luas tentang suatu isu tapi gercep dan gemar sekali membagikan berita dan cerita berisi penghinaan, pengerdilan, kelemahan, dan kekurangan sesama. Terutama kita langsung nyamber dan ikut nyinyir bila sosok yang kita benci tampil terpuji, dipuji, dan mendapatkan pujian dari pihak lain siapapun itu. ...
Cemmana pula mau mendaku sebagai cerdik terdidik dan cendekia berinteligensia yang memilih jalan pejuang demokrasi dan peduli sesama sambil membenci sesama?
Bagiku itu tuh ibarat seorang penggemar aneka minuman es manis bersirup ria plus aneka jajanan tepung yang lembut manis (dan menyantapnya hampir setiap hari), plus tukang begadang pula, ... yang sedang mengaku sebagai seorang yang amat peduli kesehatan. ...
Paling aku cuma bereaksi, "O ya." "Really?" "Aha!"
Foto Pengalihan Isu: Tiramisu penghoda nafsu

Komentar
Posting Komentar