KEJU, MENTEGA, SOSIS: 3 MAKANAN YANG "DIRUSAK" INDUSTRIALIS
Keju (terutama keju Cheddar), mentega, dan sosis, adalah salah tiga contoh makanan yang "dirusak" oleh kaum industrialis demi keuntungan fantastis. Bagaimana ceritanya?
1. KEJU CHEDDAR
Keju Cheddar aslinya adalah keju yang dibuat di sebuah kampung di Inggris (kampungnya bernama Cheddar) dan hanya berbahan baku SUSU sapi, bakteri mesofilik untuk fermentasi, enzim renin sebagai penggumpal, dan garam sebagai perasa sekaligus pengawet. Dengan bahan baku utama berupa susu murni, ditambah proses pematangan yang berlangsung berbulan-bulan dengan kontrol suhu dan kelembaban secara teliti, maka harga keju ini pun cenderung tinggi.
Melihat tingginya permintaan, termasuk pasar konsumen di negara-negara berkembang, kaum industrialis pun membuat versi KW-nya yang mereka sebut sebagai "processed cheddar cheese" atau keju cheddar olahan. Pada versi olahan ini, mereka menambahkan tepung jagung dalam jumlah yang signifikan untuk menggembungkan volume dan menekan biaya produksi.
Untuk tampilan yang lebih mengkilat, ditambahkan pula minyak nabati. Selanjutnya, agar keju, tepung, dan minyak bisa menyatu, ditambahkan bahan pengikat kimiawi (emulsifier) berupa garam fosfat. Agar keju olahan ini bisa berumur lebih panjang, ditambahkan pengawet kimiawi berupa kalium sorbat, nisin, dan lain-lain.
Agar lebih menarik dipandang mata, ditambahkan pula zat pewarna. Walhasil, masuklah berbagai produk pabrik kimia ke dalam keju. Bagi kaum industrialis dengan orientasi utama adalah cuan fantastis, ini tak jadi masalah. Yang penting permintaan konsumen terpenuhi, dan keuntungan bagi produsen pun semakin tinggi. Itu saja yang ada di pikiran industrialis.
2. MENTEGA atau BUTTER
Dibuat sejak ribuan tahun lalu di peradaban India, Timur Tengah, dan Eropa, mentega aslinya dibuat hanya dari LEMAK SUSU (krim), tanpa bahan tambahan apa pun. Garam ditambahkan jika ingin ada rasa asin dan agar lebih tahan lama. Karena bahan baku yang istimewa, mentega jadi mahal harganya.
Sementara itu, permintaan terus meningkat, termasuk dari ratusan juta konsumen di negara-negara berkembang. Maka, oleh kaum industrialis, dibuatlah tiruannya yang dikenal sebagai MARGARIN.
Bahan baku utama margarin adalah minyak nabati (contohnya minyak sawit). Selanjutnya ada deretan panjang bahan lain berupa: air, garam, emulsifier monogliserida dan digliserida, asam lemak dengan tokoferol, lesitin, perisa, pengatur keasaman, sekuestran (pencegah oksidasi yg bisa merubah warna), pewarna, pengawet, dan sebagainya.
Dengan prosedur produksi panjang yang melibatkan perlakuan mekanis, kimiawi, dan termal, maka jadilah margarin yang teksturnya sangat mirip dengan mentega. Meski begitu, rasa dan aroma tak bisa bohong. Bagi lidah yang terbiasa mencecap mentega beneran pasti tahu bedanya.
Minyak sawit, sebagai bahan baku margarin, berharga jauh lebih murah daripada lemak susu. Karenanya, produksi margarin bisa dilakukan dengan biaya lebih rendah. Pasar di negara berkembang pun merespons produk ini dengan gembira. Konsumen senang, produsen berbunga-bunga.
3. SOSIS
Aslinya, sosis dibuat dari cincangan daging dan lemak hewani yang dibumbui rempah dan garam dan dijejalkan ke dalam selongsong dari usus hewan.
Dengan bahan utama daging seperti itu, sosis asli berharga mahal dan tidak terjangkau oleh ratusan juta konsumen yang memenuhi pasar makanan. Maka, diciptakanlah sosis-sosisan yang tidak menggunakan daging sama sekali. Dari kemasan sosis KW, bisa terlihat rentetan panjang bahan pembuatnya, di antaranya: air, konsentrat protein kedelai, tepung kedelai, pati singkong, saus kedelai (air, kedelai, garam, terigu), perasa daging, cellulose gum, gula tebu, garam, pengawet, pewarna.
Walhasil, sosis tanpa daging bisa diproduksi massal dengan biaya rendah. Jutaan konsumen pun bisa menjangkaunya. Begitulah industrialisasi bekerja.



Komentar
Posting Komentar