Vampir di Kereta

 Hanya ingin berbagi cerita dan pengalaman kecil.


Hari kemarin, di dalam sebuah transportasi publik yang boleh dikata penuh sesak, energiku tiba-tiba terkuras habis. Bukan sekadar lelah, tapi seperti ada yang menyedot daya dari ruas-ruas tulang. 


Sejak langkah pertama masuk, ke wilayah itu  frekuensi memang terasa anjlok, serasa wilayah itu dipenuhi dengan energi yang sangat berat. Tiba-tiba terasa sebuah bobot tak kasat mata berusaha mencari celah untuk mengendap di tubuh eterik, membuat langkahku terasa berat bagai berjalan di dalam air udara lembab yang berat. Lalu, beberapa menit kemudian, mulai terasa banyak dari mereka berada di sekitarku. Parasit energi itu merayap mendekat, dan setiap kali satu menempel, dunia rasanya seperti bergeser. 


Sensor bawaan, yang biasanya hanya menangkap dunia yang terang-benderang, tiba-tiba disetel ulang ke saluran yang berat dan terasa suram. Di lapisan baru yang suram ini, segala sesuatu yang semula tersembunyi mulai menampakkan wujudnya yang menjijikkan. Benda-benda hitam beriak bagai gumpalan oli, lengket dan bernyawa, merayapi  dan masuk ke dalam eterik tubuh orang-orang. 



Aku jadi menyadari dengan ngeri bahwa banyak orang bukanlah lagi sepenuhnya manusia. Sebagian dari mereka hanyalah wadah berjalan, di dalam rongga dada atau menggumpal di pundak, makhluk gelap itu mendekam dorman, mengendalikan inangnya seperti dalang boneka. Yang lain berjalan begitu saja, tak sadar bahwa di punggung mereka menempel sesuatu yang mirip pacet besar, tentakelnya mencengkeram erat untuk menyedot sisa-sisa vitalitas dan energi pikirannya.


Udara di sekitarku pun ternyata penuh dengan larva-larva energetik—parasit mentah yang melayang-layang bagai spora, mencari celah untuk masuk. Beberapa di antaranya menguji pertahanan, menyusup seperti asap dingin, mencoba mencakar lapisan aura, bio energi. Setiap kali mereka berhasil menempel, tubuh menjadi drop pusing, berat dan mau muntah, lemas terasa sedikit demi sedikit, rasanya seperti baterai yang cepat sekali tekor.


Sebelum semuanya terlambat, mataku menangkap bayangan di kaca. Wajahku, yang biasanya nampak ringan dan biasa, kini terlihat tampak suram dan keruh. Seolah-olah ada selaput tipis yang buram menutupi kulitku, menghisap setiap cahaya yang hendak keluar. Cermin memang menjadi alarm yang paling jujur dan kejam: aku sadar energiku sedang dibuntuti makhluk-makhluk kelam. Di sekelilingku, tidak sedikit orang-orang berjalan bagai boneka yang dilumuri nafas gelap tanpa mereka sadari, sementara tentakel-tentakel halus menjulur dari tubuh mereka, seperti meraba-raba udara, mencari emosi mentah, ketakutan, kecemasan, kemarahan, untuk disedot.


Syukurlah aku akhirnya tiba di rumah. Tanpa basa-basi, aku menyiapkan air garam hangat. Kaki yang kurendam terasa seperti penyalur arde bagi seluruh kekacauan tadi. Kuatur napas panjang, membayangkan semua kotoran itu larut bagai tinta yang menyebar di air. Selesai mandi dan saat kuangkat kaki dari rendaman, terasa ada sensasi sobekan, seperti lepasnya perekat yang sangat kuat. Rasa perihnya tetap tertinggal, mungkin bekas semacam gigi yang membekas di lapisan eterik. Kaki, adalah saluran pembumian, menjadi pintu pembuangan kosmik. Rasa perih itu terkonsentrasi di bawah mata kaki, dari tumit hingga ke ibu jari, jejak nyata di mana para parasit sempat bertengger dan akhirnya luruh terkena air garam.


Aku menuliskan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebagai pengingat bahwa selalu waspada dan hati-hati tetap penting. Energi bukanlah sekadar halusinasi, ia nyata bekerja di lapisan yang lebih halus, dan bila kita lengah, tubuh bisa menjadi pintu terbuka bagi sesuatu yang bukan milik kita. Bawalah cermin kecil kemana-mana, beajar mencermati tanda di cermin, menjaga emosi tetap jernih, melakukan pembersihan sederhana, atau kebih mudahnya bawa sedikit garam dalam dalam saku,kita bisa mencegah diri menjadi inang tanpa sadar.


Karena pada akhirnya, menjaga frekuensi bukan soal menjadi sempurna, tapi soal kita punya otoritas atas tubuh dan cahaya kita sendiri. Jika ada pengalaman yang sama, penting punya garam mandi di rumah, mandi dengan garam setelah dari tempat keramaian, sehingga energi-energi negative yang menempel tanpa kita sadar bisa dibersihkan karena air dengan sabun saja dalam urusan energi tidaklah cukup.

Komentar