Rudal hipersonik China bukan sekadar senjata

 Kemarin di para parade militer di Beijing. Di atas truk militer beroda delapan itu, berdiri tiga tabung logam biru pucat. Bagi orang awam, ia mungkin hanya silinder besar yang dingin. Namun bagi para perencana perang di Washington, Tokyo, dan Canberra, bentuk itu adalah mimpi buruk yang mengancam seluruh doktrin laut modern: rudal hipersonik anti-kapal buatan China.



Dalam strategi militer, ada istilah A2/AD (Anti-Access/Area Denial). Artinya, sebuah negara tak perlu punya armada sebesar Amerika Serikat untuk menahan masuknya musuh ke halaman rumahnya. Cukup dengan rudal berkecepatan lebih dari lima kali lipat suara, yang dalam hitungan menit mampu mengubah kapal induk bernilai miliaran dolar menjadi bangkai besi di dasar laut. Itulah inti dari pesan yang ingin ditegaskan Beijing: Laut China Selatan dan Selat Taiwan bukan lagi arena bebas, melainkan zona larangan masuk.


Rudal hipersonik adalah equalizer—penyeimbang yang murah tapi mematikan. Satu rudal bisa menandingi ratusan miliar dolar investasi militer lawan. Amerika yang terbiasa membangun “laut tak terbatas” dengan kapal induk kini harus menghitung ulang. Bagaimana mungkin mereka menempatkan kapal raksasa sedekat itu dengan garis pantai China jika ancaman datang secepat bayangan, hampir mustahil dicegat?


Namun di balik kilau teknologi ini, yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan sekadar dominasi militer, melainkan geopolitik Asia abad ke-21. Dengan rudal ini, Beijing mengirim pesan politik: ia punya kemampuan menutup jalur perdagangan yang menopang 40% ekonomi dunia. Ia bisa menunda, bahkan menggagalkan, intervensi militer asing dalam konflik Taiwan. Ia bisa menekan ASEAN dengan bayang-bayang kekuatan.


Ya rudal hipersonik China bukan sekadar senjata. Ia adalah instrumen politik, bagian dari negosiasi besar tentang siapa yang berhak menentukan aturan di laut. Dunia menyaksikan kembalinya “politik meriam” dalam versi abad digital—cepat, presisi, dan berlapis teknologi.

Komentar