Saya kadang berfikir, apa yang ada di hati Napoleon saat dia diasingkan di pulau Elba. Keyakinan apa yang akhirnya memutuskan Napoleon untuk berani kembali mempertaruhkan hidupnya untuk kabur dari tempat pengasingannya dan kembali ke tanah Perancis. Napoleon bisa memilih hidup yang tenang di pengasingan, menghabiskan waktunya tanpa harus berfikir tentang nasib perancis di tangan raja Louis ke 18. Napoleon bisa menutup telinga tentang apa perlakuan raja Louis ke 18 ke rakyat Perancis. Apa yang ada di hati Napoleon dan perenungan apa yang menyebabkan dia memilih mempertaruhkan hidupnya sekali lagi.
Saya percaya bahwa dalam perjalanan hidup setiap orang, setiap kita akan menemukan titik baliknya sendiri. Seperti ilham, awakening, pencerahan atau apapun itu yang memberikan keyakinan ke dalam diri kita bahwa itu harus dilakukan. Tujuan yang kita anggap mulia yang layak hidup kita dipertaruhkan untuk itu. Saya teringat akan pidato pembelaan Nelson Mandela sebelum dimasukan ke penjara. Bahwa keyakinan Afrika Selatan harus merdek dari Apartheid adalah sesuatu yang layak saya pertaruhkan dengan jiwa raganya.
Titik balik ini tidak datang dengan tiba-tiba, Gautama mencari titik balik itu, jawaban akan keresahan yang tidak bisa ditinggalkan. Keresahan yang dialami oleh Che Guevara yang membuatnya berkeliling Amerika Latin, keresahan yang dialami oleh Gandhi yang membuatnya berkeliling India. Keresahan yang dialami oleh Soekarno yang berfikir tentang bangsa yang merdeka.
Setiap kita bisa memilih untuk mengubur rasa keresahan kita dan menjalani hidup seperti biasa. Beberapa akan menemukan titik baliknya dan sejarah akan mengingat mereka sebagai orang yang mempertaruhkan hidupnya untuk sesuatu yang diyakini benar. Napoleon pasti berfikir tentang lamunan yang sama, tentang keresahannya akan nasib rakyat Perancis. Sejarah bisa mencatat Napoleon sebagai penjahat atau pahlawan, yang pasti sejarah mencatat mereka yang bertindak untuk keyakinan yang lahir dari sebuah perenungan.

Komentar
Posting Komentar