Mesias Online Baru

 Lahirnya Para Mesias Digital



Di linimasa kita hari-hari ini, muncul wajah-wajah baru yang disebut panutan. Bukan dari ruang sidang, bukan dari podium kampus, bukan pula dari arena olahraga atau panggung seni. 


Panutan baru ini lahir dari layar vertikal enam inci, tampil lewat podcast atau video enam puluh detik, dengan suara penuh keyakinan, bahasa patronizing, kritik pemerintah yang keras, dan gaya seolah merekalah nabi terakhir yang diutus algoritma. 


Mereka menampilkan diri sebagai “penyelamat,” membakar kemarahan, memelintir statistik, dan menaburkan jargon-jargon akademik yang dipakai sekenanya. Kita menyebutnya analisis, meskipun sering kali lebih mirip ramalan zodiak.


Ironinya, publik terpikat. Anak muda, terutama Gen Z, merasa akhirnya ada sosok yang mewakili kegundahan mereka. Seseorang yang berani bicara kasar, membongkar aib pemerintah, memelototi elite, bahkan kalau perlu menghina lawan debat. Dulu kita mengenal Mardigu Bossman, Guru Gembul dll. Sekarang ada Ferry Irwandy, Jerome Polling dll 


Makin sinis, makin keras, makin dianggap pintar. Tidak peduli kalau datanya setengah matang, logikanya bolong-bolong, dan solusinya tidak pernah jelas. Yang penting terdengar lantang, terlihat cerdas, dan penuh percaya diri. Sebab di era algoritma, kepercayaan diri sudah lebih berharga ketimbang kebenaran.


Fenomena ini tentu tidak lahir di ruang hampa. Dunia sedang digelayuti bangkitnya populisme. Dari Donald Trump di Amerika, Jair Bolsonaro di Brasil, hingga politisi Eropa yang mengibarkan bendera antiimigran—semua memakai resep yang sama: memosisikan diri sebagai suara rakyat melawan elite busuk. 


Kini, di Indonesia, versi digitalnya hadir dalam bentuk para “mesias” media sosial. Mereka membelah dunia menjadi hitam-putih, mengklaim diri sebagai suara murni rakyat, dan menuduh semua pihak lain sebagai bagian dari elite yang jahat. Retorika macam ini memang menggoda, karena menyajikan dunia yang sederhana, penuh kepastian, dan bebas dari keraguan.


Perlu digarisbawahi, senandika ini bukan diarahkan ke personal tertentu, melainkan ke fenomena yang tercipta oleh algoritma. Algoritma yang memberi hadiah kepada kemarahan, sinisme, dan keyakinan palsu, sehingga siapa pun yang tampil dengan gaya seperti itu akan cepat naik daun. Masalahnya, publik sering lupa bahwa ini bukan soal individu, melainkan soal sistem.


Sayangnya, di luar layar, hidup jauh lebih rumit. Apa gunanya panutan digital yang mengumbar teori politik dunia, sementara di jalan raya kita masih melihat jutaan orang naik motor tanpa helm, melawan arus, menerobos lampu merah, dan menganggap rambu lalu lintas hanyalah dekorasi kota? 


Mereka mungkin bisa mengutip Foucault, Chomsky, atau Marx di TikTok, tetapi di perempatan lampu merah Depok, logika sederhana tentang keselamatan saja diabaikan. Betapa ironisnya: negara maya penuh kritik dan kesadaran politik, negara nyata penuh pelanggaran sepele yang membahayakan nyawa.


Di sinilah absurditasnya. Para panutan digital itu political heavy, seolah semua masalah bangsa hanya bisa diselesaikan lewat teori politik. Mereka bicara tentang oligarki, kartel kekuasaan, konspirasi elite, bahkan geopolitik global. Namun kita jarang mendengar mereka bicara soal kepatuhan sederhana: membuang sampah pada tempatnya, menghormati antrean, atau sekadar mematuhi marka jalan. Mungkin isu itu terlalu sepele bagi mereka, atau terlalu tidak seksi untuk algoritma. Padahal di situlah inti masalah bangsa ini: hal-hal kecil yang tidak pernah kita kerjakan dengan benar.


Kalau kita percaya pada teori komunikasi massa, para opinion leader seharusnya bisa menjadi jembatan antara informasi dan perilaku publik. Namun di era media sosial, “opinion leader” yang viral justru lebih sibuk memupuk messiah complex—perasaan bahwa hanya mereka yang bisa menyelamatkan bangsa. Lagi-lagi ini bukan soal personal, melainkan pola: algoritma membuat setiap orang yang percaya diri tampil layaknya nabi algoritma.


Ironisnya, para pemimpin dari sektor lain justru tenggelam. Tokoh-tokoh yang seharusnya bisa memberi inspirasi—ilmuwan yang bekerja dalam diam, guru yang mencetak murid dengan sabar, dokter yang berjibaku di pelosok, atlet yang berdisiplin keras, seniman yang jujur pada karya—tidak pernah viral. 


Bukan karena mereka tak layak, tetapi karena algoritma tak memberi ruang pada suara yang tenang dan konsisten. Platform lebih suka yang gaduh, yang marah, yang membelah. Maka kita pun kehilangan panutan yang menyejukkan, dan kebanjiran panutan yang membuat kepala pening.


Apakah kehadiran para “mesias” digital ini benar-benar mengubah perilaku publik? 


Mari kita jujur. Setelah menonton video mereka, apakah orang lebih taat aturan? Apakah kita jadi lebih disiplin di jalan? Apakah ada yang mendadak insaf untuk berhenti buang sampah sembarangan? 


Bukannya begitu. Yang ada justru kita makin terampil berdebat di kolom komentar, makin cekatan membantah lawan opini, makin percaya diri menulis thread panjang penuh teori—tetapi tetap saja kita naik motor tanpa helm.


Kritik politik memang penting, tetapi bangsa ini bukan hanya soal politik. Bangsa ini juga soal kesadaran sehari-hari. 


Apa artinya mengutuk oligarki, kalau di jalan kita justru jadi oligarki kecil yang seenaknya sendiri? Apa gunanya mengutuk pejabat yang melanggar hukum, kalau kita sendiri tidak patuh pada hukum lalu lintas yang paling sederhana? 


Itulah sinisme terbesar: kita berteriak lantang di dunia maya tentang moral dan keadilan, sementara di dunia nyata kita melanggar hal-hal kecil tanpa rasa bersalah.


Para panutan digital ini seperti cermin yang retak. Mereka memantulkan keresahan publik, tetapi juga membengkokkan realitas. Mereka membuat kita merasa pintar karena tahu istilah-istilah politik, tetapi lupa bahwa kepintaran sejati adalah soal konsistensi. 


Kita bisa hafal teori populisme, tetapi tetap saja abai memakai helm. Kita bisa fasih bicara oligarki, tetapi tetap saja melawan arus di jalanan. Kita bisa marah pada elite, tetapi tetap saja menyuap polisi lima puluh ribu agar lolos razia.


Apakah semua ini sia-sia? Mungkin tidak sepenuhnya. Kehadiran mereka setidaknya menunjukkan ada dahaga besar di masyarakat akan suara kritis. Namun dahaga itu kini diarahkan ke oase yang salah: oase yang penuh sinisme, penuh kepalsuan, dan penuh rasa superior palsu. Mereka bukan membimbing publik ke arah yang lebih sehat, melainkan menambah lapisan ilusi bahwa marah di internet sudah cukup untuk disebut perubahan.


Maka kita perlu bersikap skeptis. Jangan buru-buru mengangkat panutan baru hanya karena mereka lantang. Jangan tergoda pada messiah complex yang disuguhkan algoritma. Ingat, para kreator ini bukan penyelamat, hanya bagian dari sistem yang menghargai kemarahan. 


Kalau kita ingin perubahan nyata, mulailah dari hal kecil yang tampak membosankan: pakai helm, taat rambu, antre dengan tertib, buang sampah pada tempatnya. Perubahan besar lahir dari kebiasaan kecil yang konsisten, bukan dari seruan keras yang viral semalam.


Sinisme terbesar justru ada di publik sendiri. Kita tahu bahwa negeri ini penuh masalah, tetapi kita juga tahu bahwa kita enggan memperbaiki kebiasaan kecil. 


Kita lebih suka menonton panutan digital membakar amarah kita, ketimbang becermin bahwa kita sendiri bagian dari masalah. Kita marah pada elite, tetapi kita juga elite kecil di jalan, di pasar, di antrean, di mana pun kita merasa bisa melanggar aturan tanpa konsekuensi.


Jadi, ketika sampeyan melihat panutan digital baru yang tampil penuh percaya diri di linimasa, tersenyumlah dengan sinis. Ingatkan diri sampeyan: ini hanya tontonan, bukan tuntunan.


Mereka bisa marah, bisa patronizing, bisa tampil seperti nabi algoritma, tetapi di jalan raya sampeyan tetaplah bertanggung jawab atas helm sampeyan sendiri. Jangan berharap keselamatan datang dari thread panjang atau video viral. Keselamatan datang dari memutar kunci kontak, memasang helm, dan mematuhi rambu.


Kisanak, bangsa ini tidak akan diselamatkan oleh para mesias digital. Bangsa ini akan diselamatkan oleh warga yang mau melakukan hal sederhana dengan benar. Ironisnya, hal itu jarang sekali viral.

________

Komentar