Prabowo berpidato dengan gagah di PBB, mengajak bangsa-bangsa mengakui kemerdekaan Palestina. Ia juga menjanjikan akan mengakui Israel kalau Israel sudah mengakui kemerdekaan Palestina.
Pertanyaannya, Palestina yang mana?
Sebuah negara jelas memerlukan batas wilayah yang definitif. Wilayah Palestina merdeka itu yang mana? Dalam Deklarasi Kemerdekaan Palestina tuntutannya adalah wilayah yang diperuntukkan sesuai Partition Plan. Tapi definisi itu tinggal tersisa tulisan di atas kertas, tidak dalam kenyataan.
Wilayah yang tadinya diperuntukkan bagi Palestina telah diduduki Israel, akibat kekalahan perang oleh negara-negara Arab. Negara-negara Arab menyerang Israel, tapi kemudian kalah. Israel bahkan sempat menguasai seluruh wilayah, ditambah sebagian wilayah Mesir dan Syiria.
Menuntut wilayah sebagaimana tertuang dalam Partition Plan sudah hampir mustahil. Pihak Fattah sendiri menyadari hal itu. Yang lebih realistis adalah wilayah sesuai Perjanjian 1967. Itu pun juga tidak mudah. Maukah Israel menyerahkannya? Kalau tidak mau, bagaimana memaksakannya?
Itu satu soal.
Soal yang lebih rumit lagi, Palestina yang mana yang akan diakui? Dunia mungkin akan memandang ke pemerintahan Abbas. Tapi apakah Hamas mengakui mereka?
Yang terjadi selama ini, serangan kepada Israel adalah serangan Hamas yang tidak dikontrol dan tidak bisa dikontrol oleh Abbas. Bahkan usai serangan 7 Oktober ada pernyataan bahwa Otoritas Palestina tidak terlibat dalam serangan itu.
Ketika Israel membalas membabi buta di Gaza, tujuannya adalah menghilangkan Hamas. Wilayah Tepi Barat tidak dibombardir seperti itu.
Abbas dan kawan-kawan jelas tidak ingin Hamas tampil mewakili Palestina. Demikian pula sebaliknya, Hamas tidak ingin Fattah menguasai Palestina.
Jadi, Palestina itu yang mana?
Maka, saya lebih suka dengan sikap Singapura. Palestina bereskan dulu administrasi pemerintahannya. Hamas harus menghentikan terornya. Alias, Hamas harus dihilangkan dulu, karena tidak mungkin Hamas menghentikan serangan terhadap Israel. Isinya jelas, tidak asal bacot.

Komentar
Posting Komentar