Mencurigai Pikiran Sendiri.
Sejak terkuak tagar dan logo ‘Indonesia Gelap’ adalah settingan dan propaganda pihak ‘itu’ untuk suatu kepentingan, saya semakin berhati-hati untuk ikut, ikut-ikutan, atau latah terhadap suatu gerakan.
Kali ini, sebelum saya memutuskan ikut mem-pink-hijaukan aset digital saya, saya terpapar oleh pemikiran kritis seorang konten kreator, lantas saya melakukan riset kecil-kecilan.
Dari hasil penelusuran, warna brave pink terinspirasi dari sosok ikonik bu Ana yang disebut berani menghadapi aparat. Hijau dari sosok Affan.
Setelah melihat beberapa video dan pemberitaan tentang ibu berjilbab pink ini, saya termangu.
Pertama, benarkah video Bu Ana yang meneriakkan kalimat-kalimat “Prabowo anj***”, “Prabowo harus turun digantiin *****” ini video asli? Bukan deep fake video? Saya mute video ini dan silakan Anda cari sendiri di media online.
Kedua, jika benar, ditambah kata-kata bu Ana lainnya yang disitir media lain, maka saya jadi ragu, apakah landasan inspirasinya proper? Memiliki landasan moral yang kuat? Bagi saya rapuh, karena mengalami distorsi. Yang disebut berani adalah mengibarkan bendera di depan aparat, berteriak, dan mengumpat. Setidaknya itu yang saya lihat dan dengar di video-video tentangnya.
“Kan yang diambil berani-nya?”. Justru mengambil ‘berani’ pada perilaku ibu itu adalah bentuk cognitive distortion, complex equivalent— Berteriak “Tiiiiit *sensor”, mengumpat “tiiiiit *sensor lagi”, mengancam pembakaran (external behavior) sama dengan berani (internal state). Terdistorsi.
Saya berjeda dulu. Kalau memang pertanyaan saya itu jawabannya iya, maka saya akan bergerak dalam proses perubahan ini dengan cara saya sendiri.
Jika Anda tidak mempertimbangkan dan mempermasalahkan aspek ini, dan meneruskan kampanye pink-hijau, tentu saja itu hak dan pilihan Anda, karena saya memahami tujuan besarnya : perubahan dan perbaikan. Hanya saja ada baiknya Anda tetap waspada dengan yang ‘mainnya halus, subtle, dan subliminal’.***
#Tanggungjawab


Komentar
Posting Komentar