CHROMEBOOK vs. WINDOWS

 🌎 : 


Kasus Nadiem Makarim dari Sisi Teknologi 


1

Nadiem Makarim dituduh mengarahkan pembelian fasilitas komputer untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, pada Chromebook, sehingga menguntungkan Google. Padahal menurut penyidik, peneliti resmi di Kemendikbudristek merekomendasikan sistem operasi Windows, daripada Chrome OS. 


Dalam tulisan ini, kita tidak membahasnya dari sisi hukum, melainkan dari sisi teknologi. Chrome OS dibangun di atas kernel Linux, dengan aplikasi minimal dari Gentoo Linux. Di atasnya, Google mengembangkan sistem operasi open-source, yang bebas didownload dengan gratis, yang bernama Chromium OS. 


Sistem operasi yang dikembangkan oleh Google ini, secara khusus digunakan untuk menjalankan browser Google Chrome. Semua aplikasi akhirnya dijalankan di dalam browser itu, seperti Google Docs, Google Sheet, dll. 


2

Apa perbedaan antara Chromium OS dengan Chrome OS? Chrome OS sudah ditambah dengan drivers untuk perangkat keras yang digunakan, codec, manajemen update, dll. Chromebook adalah nama sistem keseluruhan, setelah Chrome OS ditempatkan dalam perangkat keras komputer. 


Berapa perbedaan harga antara Chromebook dan komputer berbasis Windows? Untuk perangkat keras yang kira-kira sama, maka harganya juga serupa, misalnya sekitar Rp 5 juta. Chrome OS gratis. Sistem operasi Windows seharga Rp 2-3 juta kalau dibelii terpisah, tapi untuk penempatan awal di komputer, juga gratis (OEM). 


Lalu apa perbedaannya? Perbedaan terletak pada aplikasi dasar wordprocessor (Google Docs vs. Microsoft Word), spreadsheet (Google Sheet vs. Microsoft Excel), dan berbagai aplikasi Office dan aplikasi dasar lainnya. 


Sekarang kita beralih ke harga keseluruhan. Perangkat keras dan sistem operasi yang sudah tersedia (Chrome OS atau Windows) harganya sama atau mirip. Di sisi sistem operasi dan aplikasi, perbedaan mulai tampak ketika komputer digunakan selama 5 tahun, misalnya. 


Sistem operasi Chrome OS selalu bisa di-update secara gratis, sampai kapanpun. Sistem operasi Windows di masa lalu, bisa di-update gratis biasanya satu kali saja, yaitu (misalnya) dari Windows 10 ke Windows 11, setelah itu bayar. Tapi saat ini Microsoft condong memberi gratis terus. 


Bagaimana dengan aplikasi Google Docs - MS Word, Google Sheet - MS Excel, dll? Aplikasi Google selalu ter-update secara gratis sampai kapanpun, sedangkan Microsoft menerapkan biaya sewa tahunan sekitar Rp 900 ribu. Lalu, Linux sangat aman terhadap virus, sedangkan Microsoft memerlukan anti-virus, yang juga berbayar. 


Setelah pemakaian 5 tahun, maka biaya untuk Chromebook masih biaya awal, yaitu Rp. 5 juta, sedangkan biaya untuk komputer berbasis Windows, totalnya bisa menjadi 2,5 kali lipat, menjadi sekitar Rp 12 juta rupiah. 


4

Ada yang memberikan argumentasi, kalau menggunakan Windows, kita bisa fleksibel. Kita bisa beli (misalnya), SPSS (aplikasi statistik), AutoCAD (aplikasi engineering drawing), aplikasi Adobe, dll. Tapi penyediaan ini untuk sekolah dasar, mungkin juga SMP. Sama sekali tidak dibutuhkan aplikasi semacam itu. Walaupun kalau mau ditambah aplikasi itu, harganya luar biasa mahal. 


Bagaimana dengan tempat penyimpan? Biaya sewa Google Drive 100 GB adalah Rp 26.900/bulan atau sekitar Rp 323.000 per tahun, atau Rp 1,62 juta dalam 5 tahun. Katanya Windows bisa menyimpan di tempat lokal saja. 


Tapi kalau yang digunakan adalah fasilitas dasar dengan ukuran 15 GB, Google Drive gratis, dan kalau mendekati penuh, bisa secara berkala dipindahkan ke tempat lokal juga. 


Terlepas dari pembahasan aplikasi dan storage, pembelian ini sebetulnya untuk memberikan keadilan akses kepada fasilitas yang telah dikembangkan oleh Kemdikbudristek. Setiap guru di seluruh Indonesia, akhirnya bisa mengakses materi belajar yang dikembangkan dalam learning management system terpusat, yang akan terus bertumbuh. 


5

Dengan pembahasan di atas, silakan dijawab sendiri, apakah pemilihan Chromebook itu didasarkan atas tujuan menguntungkan Google (dan kalau sebaliknya menguntungkan Microsoft), atau menguntungkan Indonesia dalam jangka panjang? 


Patut dicatat, ketika Kenya meninggalkan Microsoft untuk ekosistem teknologinya, dan berpindah ke sistem operasi, aplikasi, dan development tools yang bersifat open-source, GDP Kenya tiba-tiba melejit. Kemampuan pemrograman di Kenya juga meningkat pesat. 


Silakan search di Google, istilah "Silicon Savannah". Ternyata, kalau Silicon Valey merujuk pada ekosistem pengembangan IT di Amerika Serikat, Silicon Savannah merujuk pada raksasa teknologi IT di Afrika, tepatnya di Kenya. 

Komentar