Edisi Agustus - Mari kita melek sejarah...
Mempelajari data 𝐭𝐚𝐛𝐞𝐥 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐭𝐢𝐚𝐧 𝐉𝐚𝐰𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐤𝐢𝐭𝐚𝐫 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟗𝟏𝟓 selalu tampak “dingin”, angka yang naik turun seperti nada datar. Tapi begitu kau menatap 𝐥𝐨𝐧𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧 𝟏𝟗𝟏𝟖 (𝐉𝐚𝐰𝐚 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝟑𝟗,𝟏%, 𝐉𝐚𝐰𝐚 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫 𝟒𝟐%), rasa-rasanya data itu menunjukan teriakan anomali: ada sesuatu yang diputus dari tubuh bangsa ini. Pertanyaannya bukan sekadar “apa penyebabnya,” melainkan: 𝐬𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐍𝐮𝐬𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐝𝐢𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐫𝐚𝐩𝐮𝐡?
Jawabannya memaksa kita mundur jauh: 𝐚𝐛𝐚𝐝 𝐤𝐞-𝟏𝟕. Setelah 𝐉𝐚𝐲𝐚𝐤𝐚𝐫𝐭𝐚 𝐝𝐢𝐛𝐚𝐤𝐚𝐫 𝐡𝐚𝐛𝐢𝐬 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝟏𝟔𝟏𝟗 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐉𝐚𝐧 𝐏𝐢𝐞𝐭𝐞𝐫𝐬𝐳𝐨𝐨𝐧 𝐂𝐨𝐞𝐧, karena VOC ingin menguasai pelabuhan dan memutus jalur perdagangan bebas—muncullah rencana besar: membangun kota baru bernama 𝐁𝐚𝐭𝐚𝐯𝐢𝐚. 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐩𝐢𝐥𝐢𝐡 𝐕𝐎𝐂 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐫𝐚𝐰𝐚-𝐫𝐚𝐰𝐚, 𝐥𝐞𝐦𝐛𝐚𝐩, 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐦𝐮𝐤. 𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢𝐥𝐚𝐡: 𝐁𝐚𝐭𝐚𝐯𝐢𝐚 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐫𝐚𝐩𝐮𝐡 𝐬𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐥𝐚𝐡𝐢𝐫.
Orang Jawa sendiri sejak lama sudah sangat sadar pada 𝐞𝐤𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢 𝐭𝐚𝐧𝐚𝐡. Mereka tahu, 𝐫𝐚𝐰𝐚 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐫𝐚𝐦𝐚𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐝𝐢𝐣𝐚𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐮𝐧𝐢𝐚𝐧. Tanah becek, air tergenang, dan udara lembap adalah rumah bagi nyamuk, penyakit kulit, hingga demam tropis. Karena itu, orang Jawa hampir tidak pernah membangun permukiman besar di wilayah rawa terbuka.
Rawa lebih sering diperlakukan sebagai 𝐫𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐧𝐲𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚: tempat sawah musiman (lebak), ladang padi tadah hujan, atau kolam ikan darat seperti lele, gabus, dan belut. Kadang juga jadi sumber bahan alami, tanaman obat, kayu, dan anyaman dari tumbuhan air. Tetapi untuk menetap, membangun desa, apalagi kota, orang Jawa lebih memilih 𝐭𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐛𝐮𝐫: tepian sungai besar seperti Bengawan Solo atau Brantas, dataran aluvial yang tidak tergenang, atau lereng bukit yang sehat untuk pernapasan. Mereka paham, hidup di rawa artinya hidup berdekatan dengan penyakit. Maka rawa dipakai secukupnya, tapi tidak pernah dijadikan pusat kehidupan.
Nah apa yang terjadi setelah VOC mendirikan Batavia di atas wilayah pilihannya? Tahun-tahun 1620-an, 𝐫𝐢𝐛𝐮𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐭𝐢 di sekitar kota baru itu: gagal panen, wabah, sanitasi buruk. Di kertas arsip Belanda, itu dibaca sebagai “musibah.” Tapi bagi mereka yang datang dari Eropa, Batavia bahkan dijuluki “𝒕𝒉𝒆 𝒘𝒉𝒊𝒕𝒆 𝒎𝒂𝒏’𝒔 𝒈𝒓𝒂𝒗𝒆𝒚𝒂𝒓𝒅”, kuburan orang kulit putih. Karena begitu banyak pejabat, prajurit, bahkan keluarga Belanda yang tewas oleh 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐫𝐢𝐚, 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐧𝐭𝐫𝐢, 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐥𝐞𝐫𝐚, sampai-sampai Batavia dianggap 𝐤𝐨𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢.
Tetapi di balik istilah itu tersembunyi fakta lain: fakta yang tidak bisa dipungkiri, orang-orang pendatang dari wilayah Eropa, termasuk Belanda pada waktu itu pada dasarnya sangat 𝐣𝐨𝐫𝐨𝐤. Mereka 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐥 𝐜𝐞𝐛𝐨𝐤 𝐩𝐚𝐤𝐚𝐢 𝐚𝐢𝐫 𝐬𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐚𝐣𝐚𝐭.(Gak tahu apakah sekarang mereka sudah bisa cebok apa belum). Jaman dulu, mereka biasa 𝐁𝐀𝐁 𝐝𝐢 𝐰𝐚𝐝𝐚𝐡 𝐭𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐥𝐢𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐥𝐨𝐠𝐚𝐦 𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐫𝐮𝐦𝐚𝐡 (𝐩𝐢𝐬𝐩𝐨𝐭). 𝐏𝐚𝐠𝐢𝐧𝐲𝐚, 𝐢𝐬𝐢 𝐩𝐨𝐭 𝐢𝐭𝐮… 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥 𝐝𝐢𝐥𝐞𝐦𝐩𝐚𝐫 𝐤𝐞 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐞 𝐩𝐚𝐫𝐢𝐭. Di Eropa, termasuk Amsterdam ada tradisi teriak “𝒈𝒂𝒓𝒅𝒆𝒛 𝒍’𝒆𝒂𝒖!” (𝐚𝐰𝐚𝐬 𝐚𝐢𝐫!) sebelum lempar kotoran dari jendela. Di Batavia? Ya, langsung ke kanal atau got yang sudah penuh air rawa.
𝐂𝐚𝐭𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐕𝐎𝐂 sendiri menyebutkan betapa cepatnya orang Belanda mati di Batavia karena “𝐮𝐝𝐚𝐫𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐜𝐮𝐧” (𝒐𝒏𝒈𝒆𝒛𝒐𝒏𝒅𝒆 𝒍𝒖𝒄𝒉𝒕). Padahal yang bikin racun ya mereka sendiri—campuran rawa, kanal stagnan, dan kotoran yang menumpuk. Tak heran Batavia dijuluki “𝑯𝒆𝒕 𝑮𝒓𝒂𝒇 𝒅𝒆𝒓 𝑯𝒐𝒍𝒍𝒂𝒏𝒅𝒆𝒓𝒔”– 𝐤𝐮𝐛𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐧𝐝𝐚.
Orang 𝐉𝐚𝐰𝐚, 𝐁𝐮𝐠𝐢𝐬, 𝐁𝐚𝐥𝐢, 𝐝𝐥𝐥. dari dulu sudah terbiasa cebok dengan air setelah buang hajat, mandi di sungai atau sumur, bahkan punya tradisi 𝐫𝐮𝐰𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 lewat mandi bunga, boreh, lulur, bahkan ratus. Dan buang air biasanya di sungai yang mengalir (bukan kanal mampet), atau di kebun/lahan yang menyerap. Ditambah kebiasaan jamu, mandi sehari dua kali, dan memang hidup lebih dekat dengan alam.
“𝐈𝐫𝐨𝐧𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚, 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐄𝐫𝐨𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞𝐧𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐬𝐨𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐲𝐚𝐤𝐢𝐭 𝐁𝐚𝐭𝐚𝐯𝐢𝐚. 𝐋𝐚𝐥𝐮, 𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐧𝐚𝐬𝐢𝐛 𝐩𝐞𝐧𝐝𝐮𝐝𝐮𝐤 𝐥𝐨𝐤𝐚𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐤𝐬𝐚 𝐥𝐚𝐩𝐚𝐫, – 𝐭𝐚𝐧𝐚𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐫𝐚𝐦𝐩𝐚𝐬, 𝐬𝐚𝐰𝐚𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐭𝐞𝐛𝐮, 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐛𝐢𝐬 𝐝𝐞𝐦𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐮𝐭𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐬𝐢𝐧 𝐤𝐨𝐥𝐨𝐧𝐢𝐚𝐥 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐲𝐚𝐤𝐢𝐭-𝐩𝐞𝐧𝐲𝐚𝐤𝐢𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐣𝐨𝐫𝐨𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐧𝐝𝐚?”
Ketika tubuh lokal runtuh, VOC mengisi kekosongan itu: 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐀𝐦𝐛𝐨𝐧, 𝐁𝐚𝐥𝐢, 𝐁𝐮𝐠𝐢𝐬, 𝐓𝐢𝐨𝐧𝐠𝐡𝐨𝐚, 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐀𝐫𝐚𝐛, 𝐀𝐟𝐫𝐢𝐤𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐈𝐧𝐝𝐢𝐚. Batavia butuh buruh untuk membangun kanal, benteng, rumah, juga ladang tebu, kelapa, dan tanaman dagang lainnya. 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐦𝐛𝐨𝐧, 𝐁𝐚𝐥𝐢, 𝐝𝐚𝐧 𝐁𝐮𝐠𝐢𝐬 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐤𝐚𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐤𝐮𝐥𝐢 𝐤𝐨𝐧𝐭𝐫𝐚𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐮𝐝𝐚𝐤. Orang Ambon & Bugis terkenal sebagai 𝐩𝐫𝐚𝐣𝐮𝐫𝐢𝐭 𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐡. VOC sengaja rekrut mereka untuk jadi serdadu, jaga benteng, bahkan “pengaman” internal dari pemberontakan orang Jawa. 𝐩𝐨𝐥𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐩𝐞𝐜𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐥𝐚𝐡: orang Nusantara dipakai melawan sesamanya.
𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐢𝐨𝐧𝐠𝐡𝐨𝐚, 𝐀𝐫𝐚𝐛, 𝐝𝐚𝐧 𝐈𝐧𝐝𝐢𝐚 masuk sebagai penggerak perdagangan. VOC butuh mereka karena punya 𝐣𝐚𝐫𝐢𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐠𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐮𝐚𝐭 (misalnya Tionghoa di jalur Asia Timur, Arab & India di jalur Samudera Hindia). Tapi sekaligus VOC menjadikan mereka 𝐭𝐚𝐦𝐞𝐧𝐠 𝐞𝐤𝐨𝐧𝐨𝐦𝐢 – biar kalau ada konflik harga, yang kena duluan bukan Belanda, tapi para pedagang perantara ini.
Nah untuk mengisi 𝐤𝐞𝐤𝐨𝐬𝐨𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐦𝐨𝐠𝐫𝐚𝐟𝐢𝐬, di sinilah muncul strategi JP Coen. Ia mengusulkan agar 𝟒𝟎𝟎–𝟓𝟎𝟎 𝐚𝐧𝐚𝐤 𝐲𝐚𝐭𝐢𝐦 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐧𝐝𝐚 didatangkan, dengan komposisi dua perempuan untuk satu laki-laki. Perempuan-perempuan itu rencananya disekolahkan di l𝐥𝐞𝐦𝐛𝐚𝐠𝐚 𝐤𝐡𝐮𝐬𝐮𝐬 𝐕𝐎𝐂 hingga dewasa, lalu dijodohkan dengan pria Belanda yang “layak.” Wacana 𝟒𝟎𝟎–𝟓𝟎𝟎 𝐚𝐧𝐚𝐤 𝐲𝐚𝐭𝐢𝐦 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐧𝐝𝐚 ini menuntun kita pada keterkaitan produksi bayi masal dengan istilah 𝒃𝒂𝒃𝒚 𝒄𝒂𝒃𝒃𝒂𝒈𝒆: 𝐛𝐚𝐲𝐢-𝐛𝐚𝐲𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐜𝐢𝐩𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐬𝐢𝐧 𝐢𝐧𝐤𝐮𝐛𝐚𝐭𝐨𝐫 memotong jalur inkarnasi jiwa leluhurnya, sehingga memorinya ‘lost’. Anak yatim itu, dengan kata lain, adalah 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐝𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐚𝐭𝐚𝐧. Dari sinilah awal-mulanya istilah “𝐚𝐧𝐚𝐤 𝐲𝐚𝐭𝐢𝐦 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐬𝐥𝐢.”
Kembali pada kota buatan VOC, lalu datang komoditas yang tampaknya polos tapi mematikan: 𝐠𝐮𝐥𝐚, yang dikenal dengan istilah 𝐞𝐦𝐚𝐬 𝐩𝐮𝐭𝐢𝐡 Sekitar 1630-an, VOC menanam tebu di sekitar Batavia. 𝐓𝐞𝐤𝐧𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢 𝐠𝐢𝐥𝐢𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐚𝐡 𝐠𝐮𝐥𝐚 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐝𝐢𝐠𝐞𝐫𝐚𝐤𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐮𝐧𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐓𝐢𝐨𝐧𝐠𝐡𝐨𝐚 (yang sudah punya tradisi tebu sejak lama, jauh sebelum Belanda datang). 𝟏𝟔𝟓𝟎-𝐚𝐧, 𝐁𝐚𝐭𝐚𝐯𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐞𝐥𝐦𝐚 𝐤𝐨𝐭𝐚 𝐠𝐮𝐥𝐚: 𝐩𝐮𝐥𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐛𝐫𝐢𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐝𝐢𝐫𝐢, 𝐤𝐚𝐩𝐚𝐥-𝐤𝐚𝐩𝐚𝐥 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐲𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐰𝐚 𝐤𝐫𝐢𝐬𝐭𝐚𝐥 𝐦𝐚𝐧𝐢𝐬 𝐤𝐞 𝐄𝐫𝐨𝐩𝐚, 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐬𝐨𝐤 𝐜𝐚𝐧𝐝𝐮 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐭𝐞𝐡, 𝐤𝐨𝐩𝐢, 𝐝𝐚𝐧 𝐜𝐨𝐤𝐞𝐥𝐚𝐭.
Batavia sampai dijuluki sebagai “𝒔𝒖𝒈𝒂𝒓 𝒄𝒂𝒑𝒊𝒕𝒂𝒍 𝒐𝒇 𝒕𝒉𝒆 𝑬𝒂𝒔𝒕.” 𝐬𝐮𝐫𝐯𝐞𝐢 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟔𝟗𝟔 ada 𝟏𝟏𝟔 𝐩𝐚𝐛𝐫𝐢𝐤 𝐠𝐮𝐥𝐚 yang beroperasi di wilayah Batavia, tanda bahwa kota ini tumbuh dari gula, bukan sekadar dipoles oleh proses kolonial. Mereka muncul di tepi sungai sebagai 𝐩𝐚𝐛𝐫𝐢𝐤 𝐧𝐲𝐚𝐭𝐚, mencetak 𝐞𝐦𝐚𝐬 𝐩𝐮𝐭𝐢𝐡 masif ke Eropa. Penduduk lokal berubah jadi 𝐛𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐤𝐞𝐛𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐛𝐮, 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐮𝐭, 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠; 𝐬𝐞𝐥𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 𝐍𝐮𝐬𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐫𝐞𝐭 𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐦𝐞𝐬𝐢𝐧 𝐠𝐮𝐥𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚𝐰𝐢.
Untuk Eropa: 𝐦𝐚𝐧𝐢𝐬. Untuk Jawa: 𝐩𝐚𝐡𝐢𝐭.
𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐩𝐚𝐡𝐢𝐭? Sawah beras yang seharusnya jadi sumber hidup rakyat, dipaksa jadi ladang tebu. Hasilnya? 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐍𝐮𝐬𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐝𝐚 𝐝𝐢 𝐉𝐚𝐰𝐚 𝐤𝐞𝐥𝐚𝐩𝐚𝐫𝐚𝐧, 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 𝐤𝐮𝐫𝐮𝐬 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐛𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐦𝐮𝐫𝐚𝐡, sementara 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐭 𝐩𝐮𝐭𝐢𝐡 𝐩𝐮𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐠𝐮𝐠𝐮𝐫𝐚𝐧 di rawa wabah. 𝐊𝐞𝐛𝐮𝐧 𝐤𝐞𝐥𝐚𝐩𝐚 yang biasa jadi sumber minyak, gula kelapa, dan bahan bangunan juga dialihfungsikan ke tebu. Artinya: 𝐩𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐨𝐤𝐨𝐤 𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠, 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐩𝐚𝐫, 𝐢𝐦𝐮𝐧𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐚𝐧𝐣𝐥𝐨𝐤.
Di atas kertas, itu disebut “𝐞𝐤𝐨𝐧𝐨𝐦𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐤𝐞𝐛𝐮𝐧𝐚𝐧.” Tapi di dalam tubuh manusia Nusantara, itu berarti 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐥𝐮𝐫 𝒔𝒆𝒍𝒇-𝒉𝒆𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 : orang yang lapar dan lemah tak lagi mampu mengaktifkan jalur penyembuhannya sendiri—meski Nusantara kaya 𝐣𝐚𝐦𝐮, 𝐡𝐞𝐫𝐛𝐚𝐥, 𝐦𝐚𝐝𝐮, 𝐝𝐚𝐧 𝐠𝐮𝐥𝐚 𝐚𝐥𝐚𝐦𝐢 (𝐚𝐫𝐞𝐧, 𝐤𝐞𝐥𝐚𝐩𝐚).
𝐆𝐮𝐥𝐚 𝐩𝐮𝐭𝐢𝐡 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐩𝐞𝐦𝐚𝐧𝐢𝐬; 𝐢𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐫𝐬𝐢𝐭𝐞𝐤𝐭𝐮𝐫 𝐤𝐨𝐧𝐭𝐫𝐨𝐥: 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 𝐤𝐞𝐭𝐞𝐫𝐠𝐚𝐧𝐭𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧, 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐝𝐞𝐬𝐚 𝐤𝐞𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐬, 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐫𝐚𝐤𝐲𝐚𝐭 𝐭𝐚𝐚𝐭 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐰𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐬𝐢𝐧 𝐞𝐦𝐚𝐬 𝐩𝐮𝐭𝐢𝐡. Gula yang manis di meja makan Eropa sesungguhnya 𝐩𝐚𝐡𝐢𝐭 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐚𝐢𝐫 𝐦𝐚𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐭𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐮𝐬𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚. Ia bukan sekadar komoditas, 𝐦𝐞𝐬𝐢𝐧 𝐤𝐨𝐥𝐨𝐧𝐢𝐚𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐢𝐬𝐚𝐩 𝐧𝐚𝐝𝐢 𝐍𝐮𝐬𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚.
Lebih ironis lagi: 𝐠𝐮𝐥𝐚 𝐝𝐢𝐣𝐚𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐝𝐮, diekspor untuk keuntungan Eropa, sementara rakyat yang menanam tebu justru kehilangan makanan pokok. Hingga kini, gula bahkan masih diimpor—padahal kita sudah tahu gula adalah biang rapuhnya kesehatan. Kalau negara benar-benar sayang rakyatnya, mestinya tidak begini.
“Makanya, jangan heran kalau sampai sekarang selalu ada ‘‘𝐝𝐫𝐚𝐦𝐚 𝐠𝐮𝐥𝐚’—dari harga sampai penyakit. Itu bukan kebetulan, melainkan warisan panjang yang ditanam sejak berabad lalu. 𝐒𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐤𝐨𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐣𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐬𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢, jadi seolah-olah masalah gula itu baru muncul. Padahal sejak dulu gula selalu membawa konflik, mulai dari tanah yang dipaksa jadi ladang tebu, sampai persaingan antar pelaksana. Sejarah sudah berkali-kali memberi tanda: 𝐦𝐚𝐧𝐢𝐬 𝐢𝐭𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐩𝐮.”
Dear rakyat Indonesia, termasuk diriku, 𝐤𝐮𝐫𝐚𝐧𝐠𝐢𝐥𝐚𝐡 𝐠𝐮𝐥𝐚 𝐩𝐮𝐭𝐢𝐡.Kembalilah 𝐠𝐮𝐥𝐚 𝐚𝐫𝐞𝐧, 𝐠𝐮𝐥𝐚 𝐤𝐞𝐥𝐚𝐩𝐚, 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐧𝐢𝐬 𝐚𝐥𝐚𝐦𝐢 dari resep moyang-moyang dulu, gali kembali resep yang dulu walau sudah ratus-ratusan tahun, nggak usah kebanyakan suloyo, silahkan mencari, ada kok pasti catatannya... Dengan kesehatan prima, 80% kekayaan sudah kita miliki, selebihnya upaya mencukupi kebutuhan.
𝑺𝒆𝒉𝒂𝒕-𝒔𝒆𝒉𝒂𝒕𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖, 𝒓𝒂𝒌𝒚𝒂𝒕 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂...

Komentar
Posting Komentar