Victor Orban Lose

 Soros dan Antek-antek Asing: Viktor Orban, simbol kekuatan kanan di Eropa, akhirnya jatuh. PM Hungaria itu kalah pemilu. Ia kalah dari Peter Magyar, bekas loyalisnya, yang kemudian menjadi oposisi. 


Orban adalah anak kesayangan politisi2 konservatif AS. Donald Drumb Dumb Dumb menjadi pendukung kuatnya. Wapres AS, another dumb dumb, bahkan ke Hungaria dan berkampanye untuk Orban. Itu dilakukannya sebelum ke Pakistan dan berunding dengan Iran, yang hasilnya nol besar.



Simbol kekuatan kanan, yang anti imigran, ini akhirnya jatuh. Sekalipun sudah mendapat dukungan asing sepenuhnya! 


Mungkin Anda tidak tahu siapa Viktor Orban dan apa relevansinya untuk Indonesia. Seperti yang saya sebutkan di atas, dia adalah PM Hungaria. Salah satu kebijakannya yang terkenal adalah anti Soros. Dia menutup universitas-nya George Soros, The Open Society, yang ada di Budapest. 


Uniknya lagi, studinya si Orban dulu juga diberi beasiswa oleh Soros. Untuk politisi macam Orban, seperti banyak politisi lain di dunia, membuat musuh bersama itu lebih menguntungkan ketimbang membuat kesejahteraan bersama. Musuh bersama itu lebih murah dan mudah dibuat serta lebih mampu mengalihkan perhatian. 


Ini tidak diterapkan di Hungaria saja. Juga di Amerika. Rejim Trump Dumb Dumb dan kaum konservatif kanan menjadikan Soros sebagai sansak (punching bag) yang gampang dipukul. Dia Yahudi. Dia kaya raya. Filantropinya membeayai politik progresif dan masyarakat terbuka. 


Di Indonesia, dosa Soros masih diingat orang. Dialah yang menghancurkan Rupiah dan Baht pada saat krisis ekonomi 1997. Dia meramalkan dua mata uang ini akan jatuh dan kemudian menjadikannya bahan spekulasi. Milyaran dolar hilang waktu itu. Hasilnya? Rejim Soeharto jatuh. 


Soros adalah seorang ahli matematika. Selain itu, dia juga belajar filsafat dibawah Karl Popper. Filsafat itulah yang membuatnya berpikir bahwa kemajuan umat manusia hanya bisa tercapai dengan adanya masyarakat terbuka -- yang bebas mengungkapkan ide-idenya, bebas bicara, punya ruang terbuka untuk mengadu gagasan, dan semua pihak bisa bersuara dan yang berkuasa mendengarkan. Apa artinya itu? Silahkan tafsirkan sendiri. 


Namun bukan prinsip itu yang membuat Soros dibenci banyak penguasa. Karena prinsip jika ia berhenti pada prinsip saja, tidak akan berarti apa-apa. Soros, dengan kekayaannya, mendirikan filantropi untuk membangun masyarakat terbuka ini. Disitulah masalahnya. Secara natural, dia membeayai banyak gerakan progresif karena kaum kanan tidak suka masyarakat terbuka. 


Ia mulai dari gerakan perempuan, gerakan LGBTQ, gerakan-gerakan demokrasi, pendeknya semua gerakan yang kaum marjinal yang didorong supaya bisa berpartisipasi dan punya kekuatan. Itulah masyarakat terbuka. 


Di negeri kita, gelombang anti Soros pun sedang naik akhir-akhir ini. Teriakan "hai ... antek-antek asing!" itu mengarah ke sana. Bahkan kemarin saya melihat staf kantor presiden membuat video yang merujak NGO-NGO yang menerima bantuan asing itu. Staf yang sama membuat pembenaran mengapa bos-nya ikut Board of Peace (BoP). Bahkan bikin singkatan baru Board of Prabowo. 


Hanya saja, kelihatan argumennya kedodoran karena dia tidak bisa membedakan begitu banyak aktor - Soros hanya salah satu - pendana gerakan emansipasi di dunia ini. 


Namun, satu hal yang jelas dari semua lini argumen yang dikemukakan oleh orang-orangnya rejim penguasa di Indonesia ini. Mereka semua membeo pada argumen rejim Trump di Amerika Serikat. Untuk saya, yang belajar sedikit banyak politik Amerika, warna kanan Trumpisme Amerika sangat kental di rejim penguasa Indonesia saat ini. 


Satu hal juga sama persis adalah bahwa rejim-rejim ini adalah 'the master of complainer' alias tukang mengeluh nomor satu. "Kita bangsa yang besar, yang dikibuli sehingga miskin terus!" ... itu kalau di sini. "Make America Great Again" ... itu kalau di sono. 


Namun di sisi yang lain juga sangat bombastik. Di sini: Kita buka 2,6 juta hektar food estate! 10 juta hektar sawit! 82 juta anak Indonesia makan MBG! 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih! 500 batalyon teritorial pembangunan yang bertani, beternak, piara ikan! 250 batalyon tempur baru! 


Di sono: Saya bisa selesaikan perang Ukraina-Rusia dalam 24 jam! Bensin akan murah! Semua negara akan datang ke kita dan nyembah-nyembah minta penurunan tarif ... 


Dan, terakhir, satu lagi yang sama: kedua-duanya sangat tidak kompeten mengerjakan apapun! Di sana, negaranya terjebak dalam perang tak perlu. Di sini, negaranya terancam bangkrut karena program-program yang tidak perlu.


Yang salah siapa? Ya, Soros! Antek-antek asing ... sejak kecil kita belajar bahwa tanda dari ketidakmampuan adalah salahkan orang lain.

Komentar